Nama saya Morishita Ren, dua puluh sembilan tahun, pegawai gudang logistik di Osaka yang sudah tiga minggu berturut-turut pulang naik bus malam terakhir.
Malam itu saya tertidur dengan pipi menempel di kaca jendela, dan ketika membuka mata, saya tidak lagi punya pipi, kaca, maupun badan untuk dibawa pulang.
Yang saya punya hanya cahaya kuning, sebuah tiang batu di bawah saya, dan pemandangan persimpangan jalan di padang yang terlalu hijau untuk ukuran Osaka. Matahari tepat di atas kepala, dan entah bagaimana saya tahu jam menunjukkan pukul 12.20.
Saya mencoba minta tolong dengan sopan. Yang keluar hanya bunyi denting kecil, mirip bel pintu minimarket yang sedang malas bekerja.
Tidak lama kemudian seorang ksatria berzirah perak berjalan terhuyung ke arah saya, menatap saya dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata bahwa akhirnya ia menemukan titik simpan sebelum bos pertama. Begitu telapak tangannya menyentuh permukaan saya, saya langsung tahu namanya Kunigunde Haberl, bahwa ini kekalahannya yang ketujuh, dan bahwa ia belum makan sejak kemarin pagi.
Ia tertidur di rumput dengan tangan masih menempel pada saya. Karena tidak punya kelopak mata, saya menjaganya sampai sore sambil memikirkan cara mengajukan cuti kepada dunia ini.
Jilid 1 berlanjut di rak jilid, dan Kunigunde punya kartunya sendiri di bagian tamu.
